mengenal pemikiran filsup pendidikan Al- Kindi bin Ishaq

Related image

image by google.com

Al- Kindi bin Ishaq atau nama legkapnyaAl-Kindi bin Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi ialah ilmuan dan filosof besar Islam yang hidup pada masa kekhalifahaan Bani Abbasiyah. Ia lahir pada 809 M dan wafat pada 873M. Ia masih keturunan suku Kindah, sebuah suku besar di Arab Selatan pada masa sebelum Islam. Keluarga Al-Kindi adalah keluarga terhormat dengan status sosial tinggi.

kunjungi juga website kami rpp kurikulum 2013 smp

Ayahnya pernah menduduki jabatan sebagai gubernur Kufah pada masa Khalifah Al-Mahdi(775-778M) dan Khalifah Ar-Rasyid(786-809M). Dunia mengenal Al-Kindi sebagai penggerak dan pengembang ilmu pengetahuan. Hal ini karena karya dan pemikiran Al-Kindi meliputi bidang yang sangat luas dan beragam. Hampir setiap bidang keilmuan, pasti ada karya Al-Kindi yang membahas Atau mengulasnya. Pada awalnya, Al-Kindi belajar di Bashrah, sebuah kota di Iraq yang menjadi pusat pengetahuan dan pergunulan intelektual dunia, namun demikian ia kemudian menamatkan pendidikannya di Bagdad. Di kota yang kini menjadi Ibu kota Iraq modern tersebut, Al-Kindi berkenalan dengan para pangeran Abbasyiah, seperti Al-Ma’mun dan Al-Mu’tasim. Lalu Al-Kindi diangkat menjadi guru pribadi Ahmad, putra Al-Makmun yang darinya ia memperoleh dukungan kuat untuk melahirkan karya-karya besar dibidang ilmu pengetahuan. Al-Kindi hidup selama pemerintahan Bani Abbasyiah, yaitu Al-Amin (809-813M), Al-Ma’mun (813-833M), Al-Mu’tasim (833-842M), Al-Watsiq (842-847M), dan Al-Mutawakil (847-851M). Selama kurun waktu itu, Al-Kindi banyak melahirkan karya dibidang filsafat, matematika (geometri), agama, asrtonomi, logika dan kedokteran. Diantara karya al-Kindi yang turut meramaikan dunia pengetahuan adalah Risalah fi masail suila anha min ahwal al-kawakib (jawaban dari pertanyaan-pertanayaan planet), risalah fi mathrah asy-syu’a (tentang projeksi sinar), dan risalah fi idhah ‘illat ruju’ al-kawakib (tentang penjelasan sebab gerak ke belakang planet-planet). Dari sekian banyak ilmu ia sangat menghargai matematika, hal ini disebabkan matematika bagi Al-Kindi, adalah mukadimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukadimah ini sangat penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dahulu menguasai matematika. Matematika disini meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geomeri, dan astronomi. Tetapi yang paling utama dari seluruh cakupan matematika disini adalah ilmu bilangan atau aritmatika karena jika bilangn tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun. Ia adalah filsuf berbangsa Arab dan dipandang sebagai filsuf muslim pertama. Diantara Kelebihan Al-Kindi adalah Menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum muslimin setelah terlebih dahulu meng islamkan pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang ada.

Sejarah intelektual di dunia Islam yang mana sumbangannya tidak bisa dipungkiri, tetapi disisi lain, filsafat juga dianggap unsur luar yang mengacak-acak ajaran Islam. Bisa jadi, ini karena watak filsafat itu sendiri. Filsafat, apapun nama dan bentuknya, adalah keberanian untuk mempertanyakan kebenaran-kebenaran yang dalam pandangan umum telah diyakini kebenarannya. Watak “subversif” filsafat ini juga bisa juga ditemukan dalam filsafat islam. Kita ketahui bersama bahwasanya filsafat di bagi atas beberapa periode, periode pertama yang merupakan awal munculnya filsafat yaitu berasal dari Yunani, karena di sana terdapat beberapa orang yang cenderung menggunakan otak sebagai landasan berpikir. Tokoh – tokoh seperti Socrates, Plato dan Aristotales. Periode kedua yang merupakan masa pertengahan adalah filsafat Islam. Filsafat Islam klasik mulai berkembang pada masa al-Kindi, yang mana menurut Sulaiman Hasan bahwasanya tidak ada seorangpun filosof Islam kecuali al-Kindi, karena baginya ia merupakan seorang filosof pertama dalam Islam begitu juga merupakan filosof Arab pertama. Dalam pengembangan filsafatnya al-Kindi mengikuti falsafah Arestoteles. Hal itu bisa dibuktikan dari buku-buku filsafat yang dikarang oleh al-Kindi lebih banyak mengarah pada buku-buku karangan Aristotales. Yang mana pemikiran al-Kindi dalam filsafat sendiri meliputi:

  1.  Talfiq, Al-Kindi berusaha memadukan (talfiq) antara agama dan filsafat.
  2. Filsafat termasuk humaniora yang dicapai filosof dengan berpikir, belajar, sedangkan agama adalah ilmu ketuhanan yang menempati tingkat tertinggi karena diperoleh tanpa melalui proses belajar, dan hanya diterima secara langsung oleh para Rasul dalam bentuk wahyu.
  3. Jawaban filsafat menunjukan ketidak-pastian ( semu ) dan memerlukan berpikir atau perenungan. Sedangkan agama lewat dalil-dalilnya yang dibawa Al-Qur’an memberi jawaban secara pasti dan menyakinkan dengan mutlak.
  4. Filsafat mempergunakan metode logika, sedangkan agama mendekatinya dengan keimanan.
  5. Tentang jiwa, menurut Al-Kindi; tidak tersusun, mempunyai arti penting, sempurna dan mulia. Substansi ruh berasal dari substansi Tuhan. Hubungan ruh dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari. Selain itu jiwa bersifat spiritual, ilahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh. Sedangkan jisim mempunyai sifat hawa nafsu dan pemarah. Antara jiwa dan jisim, kendatipun berbeda tetapi saling berhubungan dan saling memberi bimbingan. Argumen yang diajukan Al-Kindi tentang perlainan ruh dari badan ialah ruh menentang keinginan hawa nafsu dan pemarah.
  6. Moral, Menurut Al-Kindi, filsafat harus memperdalam pengetahuan manusia tentang diri dan bahwa sorang filosof wajib menempuh hidup susila. Kebijaksanaan tidak dicari untuk diri sendiri (Aristoteles), melainkan untuk hidup bahagia.