Hitungan modal untuk memulai bisnis ritel

Angan-angan bentuk toko bisnis ritel pribadi kamu seperti apa, bagaimana susunannya, dan seberapa untung yang akan didapat bisa jadi sudah tertanam dalam kepala. Tapi, buat apa kalau mimpi tidak segera dilaksanakan? Mending tidur saja, bukan? Jangan begitu! Kini saatnya kamu bangkitkan jiwa wirausaha kamu.

Ya, Bisnis ritel termasuk usaha paling populer untuk kamu yang tidak ingin punya siklus berangkat pagi pulang petang hingga waktu pensiun. Terang saja, masyarakat Indonesia termasuk konsumtif sehingga usaha seperti ritel dapat tumbuh dengan subur. Sayangnya, meski ada kemauan untuk mulai berbisnis, tidak banyak yang membahas seberapa besar modal yang dibutuhkan untuk bisnis ritel?

Bagaimana cara menentukan jumlah modal?

Sebelum memulai menentukan seberapa modal yang harus didapat, kamu wajib memahami bahwa tidak semua orang memulai dengan kebutuhan jumlah modal yang sama persis. Meskipun tetangga sebelah sekalipun, bisa jadi kamu membutuhkan modal yang berbeda dengan mereka. Jadi, jangan pernah menanyakan dan meyakini biaya pembangunan ritel tanpa dasar yang jelas.

Dasar yang dimaksud disini adalah kebutuhan barang untuk bisnis ritel kamu. Supaya lebih gampang, mari simak daftar kebutuhan memulai bisnis ritel berikut:

– Produk ritel apa sih?

Kebanyakan orang langsung membayangkan waralaba si merah dan si biru saat membahas ritel. Padahal, menurut kamus besar bahasa Indonesia pengertian ritel sendiri merupakan ‘orang atau pelaku usaha bersama dl bidang perniagaan; pengecer’, tidak melulu barang-barang rumah tangga lengkap yang harus diecer. Pakaian, mainan, barang antik, dan banyak lagi sebetulnya termasuk barang ritel.

Umumnya bisnis ritel hanya menjual ulang. Dalam artian, kamu tidak produksi sendiri. Tugas kamu hanyalah membeli dari pemasok, lantas menaikkan harganya demi mendapatkan keuntungan. Sehingga, kamu harus mulai mencatat barang seperti apa dan kualitas bagaimana serta berapa banyak yang mungkin kamu mampu jual dalam sebulan.

– Dimana mau jual?

Jaman sekarang memang semuanya serba online. Toko offline sepertinya sudah tidak terlalu dilirik. Padahal, percayalah, namanya bentuk fisik toko masih diperlukan beberapa pelanggan. Misalkan saja peritel bidang fesyen alias pakaian. Sebagian besar calon konsumen masih senang meraba kain pada pakaian dan mencoba di tempat. Karena pertimbangan itulah, hal kedua yang musti masuk perhitungan adalah lokasi.

Cari ruko itu gampang, ada banyak dimana-mana. Justru yang susah adalah menemukan ruko bonafit yang pas untuk bisnis kamu. Apabila kamu sudah tahu produk yang akan masuk ritel nantinya, mencari lokasi akan jauh lebih enteng. Toh, kamu sudah ada bayangan konsumen atau tipe orang seperti apa yang kemungkinan besar tertarik dengan barang dagangan kelak.

-Bagaimana pemasarannya?

Bisnis apapun akan percuma kalau tidak ada yang beli. Kamu juga harus memikirkan biaya untuk pemasaran kamu kelak. Apakah cukup dengan pamflet? Spanduk depan toko? Promo besar-besaran? Atau bagaimana? Ada banyak sekali cara untuk promosikan bisnis ritel, hanya kamu sebagai pemilik harus mulai menentukan strategi yang tepat.

– Butuh karyawan?

Sebagian besar pengusaha baru merasa menjaga toko sendirian pekerjaan yang enteng. Padahal, menjalankan bisnis ritel tidak sama dengan nangkring di toko menunggu pelanggan. Apabila itu yang ada di benak kamu, maka kamu bukanlah pebisnis ritel tapi kasir.

Sebagai seorang pemilik bisnis ritel, tugas kamu tidak terbatas hanya menyapa ramah pelanggan yang masuk. Akuntan, kasir, pengecek kualitas barang, sampai dengan pembersih toko bisa jadi harus kamu lakukan, jika memilih bekerja sendirian. Tentu, kamu ingin bekerja ekstra keras sendirian tapi bisa jadi berbuah malapetaka, lho.

Manusia tidak ada yang sempurna bukan sekedar kiasan belaka. Otak manusia hanya mampu mengerjakan banyak hal bersamaan hingga suatu batas sampai akhirnya membuat kesalahan. Terlebih, dukungan nutrisi, dan istirahat yang kurang akan memperparah kemungkinan. Inilah kenapa ada baiknya mempertimbangkan untuk mengajak orang membantu kamu menjalankan bisnis ritel.

Keempat elemen utama telah kamu pertimbangkan lantas bagaimana? Jawabannya lakukan survei. Mulailah mencari tahu berapa rentang harga pemasok produk, harga ruko daerah yang kamu incar, biaya pemasaran sesuai strategi terpilih, dan gaji karyawan yang kamu butuhkan. Lalu tentukan seberapa persen target penjualan yang harus kamu capai untuk menutup modal permulaan kamu. Dengan demikian, kamu akan tahu seberapa rentang modal aktual untuk memulai bisnis kamu.

Bagaimana cara mendapatkan modal?

Momok utama orang malas mulai berbisnis adalah mendapatkan modal sesuai perhitungan. Sebagian besar memilih tinggal tidur lagi di kasur, mencari pekerjaan tetap hanya karena prinsip “uang tidak tumbuh di pohon”. Padahal, asal berani mencari saja, ada banyak jalan menuju roma. Artinya, lembaga atau perorangan yang menyediakan pinjaman untuk usaha kamu sebetulnya ada banyak sekali.

Masih tidak percaya? Dana pinjaman usaha retail business dari bank seperti HSBC misalkan. Mereka menawarkan pinjaman untuk kamu yang ingin mulai usaha dengan benar dan legal. Reputasi HSBC yang cukup terjamin membuat kamu juga lebih nyaman dan aman untuk mengajukan pinjaman karena telah dinaungi hukum Indonesia.

Kamu sudah lebih tahu tentang bagaimana memperkirakan modal bisnis yang diperlukan untuk ritel. Sekarang bukan masalah tahu atau tidak tapi kapan kamu akan praktek? Ingat, kata om Bob Sadino, bisnis yang baik itu bukan bisnis yang lagi hits, tapi bisnis yang jalan. Jadi, kenakan bajumu, dan keluar dari ‘sarang’ untuk wujudkan mimpi kamu!